Kampung Beranang merupakan salah satu kampung (desa) yang berada di wilayah Kecamatan Kutapanjang, dalam Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Untuk sejarahnya, data tertulis spesifik memang terbatas, namun bisa dijelaskan berdasarkan sejarah umum wilayah Gayo Lues dan tradisi lokal masyarakat Gayo.
Kampung Beranang diyakini sudah ada sejak masa penyebaran suku Gayo di wilayah pedalaman Aceh. Masyarakat Gayo berpindah dan membuka pemukiman di sepanjang lembah dan daerah aliran sungai, termasuk wilayah Kutapanjang. Nama “Beranang” sendiri kemungkinan berasal dari istilah lokal yang berkaitan dengan kondisi alam (seperti air, rawa, atau aktivitas tertentu), meskipun perlu konfirmasi dari tokoh adat setempat untuk makna pastinya.
Wilayah Gayo Lues termasuk dalam pengaruh Kesultanan Aceh pada masa lalu. Pada periode ini, agama Islam mulai berkembang kuat dan membentuk adat istiadat masyarakat, termasuk di Kampung Beranang. Sistem pemerintahan kampung dipimpin oleh reje (kepala kampung) yang berperan penting dalam kehidupan sosial dan adat.
Pada masa penjajahan Belanda, wilayah Gayo termasuk daerah yang cukup sulit dijangkau, sehingga pengaruh kolonial tidak sekuat di daerah pesisir. Namun tetap ada perlawanan masyarakat Gayo terhadap kolonialisme, dan kehidupan kampung tetap berbasis adat serta pertanian tradisional.
Setelah Kemerdekaan Indonesia, Kampung Beranang berkembang sebagai desa agraris. Mayoritas masyarakat menggantungkan hidup pada:
Wilayah Gayo Lues sendiri resmi menjadi kabupaten pada tahun 2002, yang kemudian mendorong pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan pelayanan publik hingga ke kampung-kampung seperti Beranang.
Hingga sekarang, Kampung Beranang masih kental dengan budaya Gayo: